Minggu, 09 Juli 2017

SEPTICAEMIA EPIZOOTICA (SE)

Penyakit SE ditemukan disebagian besar wilayah Indonesia, dan Negara negara lainnya, kecuali Australia, Oceania, Amerika Utara, Afrika Selatan dan Jepang. Kebanyakan wabah bersifat musiman, terutama pada musim hujan. Secara spasmodik penyakit juga ditemukan sepanjang tahun. Selain itu ditambah faktor predisposisi seperti kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebagainya. Diduga sebagai pintu gerbang infeksi bakteri Pasteurella kedalam tubuh penderita adalah tenggorokan. Hewan sehat akan tertular oleh hewan sakit atau carier melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat-alat tercemar. Ekskreta hewan penderita (saliva, kemih dan tinja) juga dapat mengandung bakteri Pasteurella. Bakteri yang jatuh di tanah, apabila keadaan serasi untuk pertumbuhan bakteri (lembab, hangat, teduh) akan tahan kurang dari satu minggu dan dapat menulari hewan-hewan yang digembalakan di tempat tersebut.  Tanah tidak lagi dianggap sebagai reservoir permanen untuk bakteri Pasteurella, ada kemungkinan bahwa insekta dan lintah dapat bertindak sebagai vektor. Infeksi alami yang ringan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi. Begitu pula dengan hewan-hewan yang sembuh dari penyakit SE. Menurut penelitian, jika setengah hewan dalam kelompok telah di vaksin, maka penyakit tidak timbul karena peluang untuk terjadinya kasus diperkecil dan kemungkinan terjadinya wabah dibatasi. Pada babi, SE banyak yang berbentuk sebagai gangguan pernafasan dengan gejala batuk yang lebih menonjol. Penularan melalui udara yang dibatukkan oleh penderita lebih mudah terjadi, apalagi kalau babi-babi tersebut makan dan minum dari tempat yang sama. Timbulnya SE pada babi sangat dipengaruhi oleh faktor predisposisi, seperti pada kerbau dan sapi ekskreta penderita juga dapat mengandung bakteri Pasteurella. Kontaminasi pada rumput, air, dll Di lapangan, kejadian penyakit SE biasanya dilaporkan sebagai terjadinya kematian hewan secara cepat. Dalam pengamatan, hewan biasanya mengalami peningkatan suhu tubuh, oedema submandibular (kadang menyebar ke daerah dada) dan gejala pernafasan dengan keluarnya ingus dari hidung. Dalam banyak kasus, hewan kemudian mengalami kelesuan atau lemah dan kematian. Lama penyakit lebih pendek pada kerbau dibandingkan pada sapi, kisaran waktunya mulai kurang dari 24 jam dalam kejadian perakut sampai 2-5 hari. Gejala timbul biasanya setelah masa inkubasi 2-5 hari. Gambaran klinis menunjukan 3 fase yaitu: fase pertama, hewan mengalami kenaikan suhu tubuh, anoreksia dan hipersalivasi; fase kedua, hewan mengalami gangguan pernafasan dengan hioersalivasi dan nasal discharge; dan fase ketiga, bakteri telah masuk ke dalam peredaran darah sehingga terjadi septicaemia. Pada kerbau yang diinfeksi secara buatan, kenaikan suhu hingga 43C dapat teramati 4 jam sesudah infeksi setelah inokulasi, sedangkan pada sapi kenaikan suhu mencapai 40C baru teramati setelah 12 dan 16 jam setelah iniokulasi. Dalam darah, bakterimia sudah terjadi 12 jam setelah inokulasi pada kerbau dan sapi. Jumlah bakteri dalam darah terus meningkat hingga saat kematian hewan.
Gejala Klinis
Penderita SE akan terlihat lesu, suhu tubuh naik dengan cepat, gemetar, mata sayu dan berair, selaput lendir dan mata hiperemi. Nafsu makan, memamak biak, gerakan rumen dan usus menurun sampai hilang disertai konstipasi. Mungkin pula gangguan pencernaan berupa kolik dan diare kadang-kadang disertai titik-titik darah. Sekali-kali ditemukan juga epistasis, hematuria dan urtikaria yang dapat berlanjut ke nekrose kulit. Pada SE dikenal tiga bentuk yaitu, bentuk busung, pektoral dan intestinal.
a)    Bentuk Busung
Ditemukan busung pada bagian kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki muka. Tidak jarang pula terjadi pada bagian alat kelamin dan anus. Derajat kematian bentuk ini tinggi sampai mencapai 90% dan berlangsung cepat (hanya 3 hari, kadang-kadang sampai 1 minggu). Sebelum mati, terutama pada kerbau terjadi gangguan pernafasan akan nampak sebagai sesak nafas (dyspnoe) dan suara ngorok merintih dan gigi gemeretak.
b)   Bentuk Pektoral
Ditandai dengan bronchopnemoni dan dimulai dengan batuk kering dan nyeri. Kemudian terdapatnya eksudat dari hidung dan terapat pernafasan capat dan basah. Proses biasanya lama 1-3 minggu. Penyakit yang bersifat kronis ditandai dengan hewan menjadi kurus, batuk, nafas dan amakan terganggu, terus mengeluarkan air mata, suhu tidak berubah, terjadi diare yang bercampur darah, kerusakan pada paru-paru, bronchi dan pleuranya.
c)    Bentuk Intestinal
Bentuk intestinal merupakan gabungan dari bentuk busung dan bentuk pektoral.



Pencegahan dan Pengobatan
Penyakit Ngorok pada ternak sapi memang penyakit akut, tetapi bukan berarti tidak dapat dicegah atau diobati. Cara mencegah penyakit Ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE) atau Haemorrhagic Septicaemia (HS) adalah sebagai berikut :
            Jika pada satu wilayah sedang terjangkit penyakit SE, hal pertama yang harus dilakukan adalah vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan oil adjuvant. Sedangkan untuk wilayah yang pernah terkena, wajib divaksinasi ulang (setidaknya setahun sekali), dengan dosis 3 ml secara intramuskuler. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit. Lakukan karantina yang ketat terhadap ternak sapi yang masuk dari daerah yang sedang terjangkit SE Segera bakar/kubur bangkai ternak sapi yang terkena SE.
            Bersihkan kandang dengan disinfektan secara rutin Sedangkan untuk ternak sapi yang telah terjangkit SE, segera lakukan pengobatan dengan beberapa jenis antibiotika sebagai berikut :
1.      Oxytetracycline dengan dosis 50 mg/10 Kg BB
2.      Streptomycin dengan dosis 5 –10 mg/Kg BB
3.      Sulphadimidine (Sulphamezathine): 2 gram/30 Kg BB.
            Ternak sapi yang terserang penyakit SE kronis, harus dimusnahkan, Jika masih dalam taraf awal, sapi dapat dipotong dan dagingnya bisa dikonsumsi, namun harus diperiksa oleh Dokter Hewan/ petugas kesehatan terlebih dahulu. Akan tetapi jaringan tubuh dan jeroan yang terserang, terutama paru paru harus dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.
            Selain itu, segera musnahkan semua pakan dan minuman yang telah tercemar, dan sucihamakan semua peralatan yang ada dikandang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puskeswan Cinta Kasih

PUSKESWAN CINTA KASIH

Unit Pelaksana Teknis Dinas Pusat Kesehatan Hewan (UPTD Puskeswan ) Cinta Kasih merupakan salah satu UPT D Dinas Tanaman Pangan, Horti...